BOJONEGORO, Eksklusif.co.id – Sebutan proyek “Roro Jonggrang” biasanya disematkan pada pekerjaan yang selesai dalam semalam. Namun di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, istilah itu kini punya makna satir: cepat dibangun, lebih cepat lagi dihancurkan.
Belum genap sepekan warga mencicipi jalan rigid beton yang baru saja rampung, kini pemandangan di depan Masjid Mori justru memilukan.
Alih-alih jalur mulus, warga disuguhi tumpukan puing beton yang hancur berkeping-keping. Pembongkaran mendadak ini mengonfirmasi satu hal: ada yang busuk dalam spesifikasi materialnya.
Kesaksian Warga: “Beton yang sangat lembek?”
Dugaan malapraktik konstruksi ini mencuat setelah warga menyadari keanehan fisik pada jalan tersebut. AG, salah satu warga setempat, mengungkap kecurigaan yang selama ini terpendam. “Sudah hampir satu minggu selesai, tapi betonnya masih terlihat basah terus, Mas. Seperti tidak mau mengeras. Dugaan saya kualitasnya jauh di bawah standar operasional,” ungkapnya ketir melalui pesan singkat (23/1/2026).
Ironisnya, bobroknya kualitas ini diakui langsung oleh sang pelaksana. Imam Turmudi, kontraktor proyek tersebut, secara blak-blakan mengakui bahwa spesifikasi beton yang ia gunakan sebelumnya untuk benol. Sebagai langkah penyelamatan muka, ia berjanji akan melakukan rebuild total.
“Kami siap bongkar. Kami akan ganti dengan beton kualitas K450-K500 agar lebih cepat kering dan kuat. Sekarang kami tinggal menunggu surat resmi dari Kepala Desa,” tegas Imam (20/1).
Namun, janji ini justru memicu pertanyaan baru: Mengapa spesifikasi tinggi tidak dilakukan sejak awal? Apakah harus menunggu viral dan diprotes warga sebelum bekerja sesuai standar?
Audit atau Menguap?
Proyek yang didanai melalui skema Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) Pemkab Bojonegoro ini kini berada di bawah mikroskop publik. Masyarakat tidak lagi butuh sekadar janji “tambal sulam”.
Tuntutan Warga: Inspektorat dan Tim Mitigasi harus turun tangan.
Jika hanya dibongkar tanpa audit investigatif, ada celah dugaan praktik penyimpangan anggaran yang merugikan negara. “Kami tidak ingin uang rakyat menguap hanya karena pengerjaan asal-asalan yang penting jadi,” pungkas seorang warga dengan nada geram. (Dwi)
![]()













