BOJONEGORO, Eksklusif.co.id – Suasana tidak nyaman melayang di lokasi proyek pengecoran jalan depan Masjid Mori.
Sementara segmen jalan lainnya telah mengeras dan kering sempurna, hamparan beton di titik ini menunjukkan kondisi yang mencurigakan: tetap terlihat basah dan lembek meski telah cukup lama dituangkan. Fenomena ini mengundang berbagai pertanyaan dari warga sekitar hingga praktisi konstruksi lokal.
Adakah faktor alam yang menjadi penyebabnya, ataukah terdapat kesalahan teknis yang coba disembunyikan dari pandangan publik?
Informasi yang dihimpun dari beberapa warga di lokasi mengarah pada dugaan pengalihan spesifikasi material yang tidak sesuai. Terdapat kecurigaan kuat bahwa beton yang digunakan untuk struktur jalan rigid pada lokasi tersebut sebenarnya adalah beton berkualitas lantai dasar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Benol (B0).
Jika dugaan ini terbukti benar, proyek ini berpotensi menjadi kegagalan struktural yang serius. Beton B0 yang seharusnya hanya berfungsi sebagai alas pembantu, dipaksa untuk menopang beban kendaraan yang jauh melampaui kapasitasnya. Tanda-tandanya pun jelas terlihat; kondisi beton yang tak kunjung kering menjadi indikasi kuat adanya ketidakseimbangan dalam campuran bahan atau penggunaan mutu beton yang jauh di bawah standar teknis yang ditetapkan.
Keresahan masyarakat semakin meningkat setelah beredar kabar bahwa jalan yang masih dalam kondisi basah tersebut akan segera ditutupi dengan lapisan aspal. Banyak pihak menilai bahwa langkah ini bukan sebagai upaya penyempurnaan proyek, melainkan sebagai tindakan cepat untuk menutupi cacat pada produksi beton agar tidak terlihat secara langsung.
“Yang saya dengar, beton yang masih basah itu akan segera diaspal, tapi saya belum tahu pasti kebenarannya,” ujar salah satu warga yang enggan menyebutkan namanya, saat diwawancarai pada hari Selasa (20/1/2026).
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Mori Wahyudi, belum memberikan klarifikasi resmi terkait kasus ini dan belum muncul dengan pernyataan apapun. Masyarakat Desa Mori dan sekitarnya masih menunggu tindakan serta penjelasan yang jelas dari pihak Pemerintah Desa.
Tak hanya itu, kontraktor pelaksana proyek, Rekanan Imam, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp juga tidak memberikan jawaban yang spesifik atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pewarta.
Jika prinsip transparansi tidak segera dikedepankan, proyek jalan ini berpotensi menjadi bukti nyata pemborosan anggaran publik dengan umur pakai yang tidak akan bertahan lama. Masyarakat berhak mendapatkan jawaban yang jelas: apakah jalan yang dibangun untuk mereka dibuat dengan material berkualitas sesuai standar, atau hanya sekadar “bubur semen” yang hanya menunggu waktu untuk mengalami kerusakan?
(Dwi)
![]()













