Nusantara

Investasi Gizi atau Sekadar Bagi Makanan? Karut-marut Program MBG di Sumberharjo Mulai Terkuak

×

Investasi Gizi atau Sekadar Bagi Makanan? Karut-marut Program MBG di Sumberharjo Mulai Terkuak

Sebarkan artikel ini

BOJONEGORO, Eksklusif.co.id – Sejumlah wali murid mengeluhkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di SPPG Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo. Mereka menilai porsi maupun komposisi makanan yang diberikan kepada siswa belum memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan.

Keluhan tersebut mencuat setelah beberapa orang tua membandingkan menu yang diterima anak-anak mereka dengan pedoman gizi seimbang yang sebelumnya disosialisasikan.

Ada yang menilai lauk kurang variatif, porsi protein minim, hingga kualitas bahan yang dianggap tidak konsisten.
“Kalau ini disebut makan bergizi, seharusnya kandungan proteinnya cukup dan menunya seimbang. Tapi yang kami lihat belum seperti itu,” ujar salah satu wali murid.

Menanggapi hal tersebut, Dimas selaku Koordinator SPPG setempat mengakui adanya kekacauan dalam pelaksanaan di awal bulan. Ia juga tidak menampik bahwa menu yang disajikan memang belum sepenuhnya memenuhi standar gizi.

“Memang ada kekacauan, dan kami akui belum memenuhi standar gizi. Ini karena di awal bulan harga bahan-bahan naik hampir semuanya,” jelas Dimas saat dikonfirmasi.

Menurutnya, lonjakan harga bahan pokok seperti beras, telur, ayam, dan sayuran cukup memengaruhi penyusunan menu.

Pihaknya terpaksa melakukan penyesuaian agar distribusi tetap berjalan, meski berdampak pada komposisi makanan.

Namun demikian, pengakuan tersebut justru memunculkan pertanyaan lanjutan dari wali murid. Mereka berharap program MBG yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak tidak dikompromikan hanya karena fluktuasi harga pasar.

Program MBG sendiri dirancang untuk memastikan siswa mendapatkan asupan nutrisi yang cukup guna mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar. Karena itu, konsistensi standar gizi menjadi perhatian utama masyarakat.

Dimas menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan berupaya memperbaiki kualitas menu pada distribusi berikutnya. “Kami akan benahi agar ke depan lebih sesuai standar,” tambahnya.

Kini para wali murid menunggu realisasi perbaikan tersebut. Bagi mereka, program makan bergizi bukan sekadar pembagian makanan, melainkan investasi kesehatan generasi masa depan.

(Dwi)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *