Surabaya, Eksklusif.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) menggelar Coaching Clinic Export di lantai 2 Siola, pada Rabu (23/9/2026). Tujuan kegiatan ini digelar adalah untuk memberikan pembekalan dan pendampingan terhadap para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Kota Surabaya.
Kepala Disperinaker Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, coaching clinic ini untuk menyiapkan pelaku usaha atau IKM yang ingin melakukan ekspor. Di kesempatan ini, lanjut dia, Pemkot bekerjasama dengan Export Center Surabaya (ECS) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Dalam coaching clinic tersebut ada sekitar 30 pelaku IKM. Nantinya, para pelaku IKM tersebut akan mendapatkan pendampingan berupa kurasi produk yang akan diekspor ke luar negeri. “Produk-produk mereka itu kan nantinya dikurasi. Nah, kurasi tersebut memerlukan ubahan teknik ya, misal kemasannya itu bagaimana kalau ekspor, kemudian tampilan produknya, hingga sertifikasinya harus bagaimana,” kata Hebi.
Hebi menjelaskan, pendampingan ini akan membantu para pelaku IKM untuk memenuhi prosedur kelayakan sesuai ketentuan ekspor. Selain itu, para pelaku IKM juga diajarkan bagaimana cara menawarkan produk secara cepat dan menarik.
“Nah, ini kita bantu, kita dorong industri kecil menengah untuk memenuhi syarat-syarat ekspor. Yang mengkurasi nanti ya Export Center tadi, dia kan punya buyer-buyer (pembeli) dari luar negeri. Nanti oleh ITS diajarkan bagaimana menawarkan barang secara cepat dan membuat produk itu menarik,” jelas Hebi.
Hebi menyebutkan, coaching clinic tersebut akan digelar berkelanjutan. Meski demikian, nantinya coaching clinic itu akan digelar secara bergantian menyesuaikan klasifikasinya. “Kita (gelar) rutin nanti, jadi kita bedakan. Untuk industri kecil menengah yang baru mulai, dan sudah kawakan atau advance, bagaimana cara kita memberikan coaching clinic-nya, perbaikan-perbaikan baik itu produk dan cara ekspornya,” sebutnya.
Rata-rata, lanjut dia, pelaku IKM yang mengikuti coaching clinic kali ini bergerak di bidang industri makanan, fashion, home decor. Pendampingan ini menurutnya perlu dilakukan agar para pelaku IKM memiliki produk yang sesuai dengan pasar luar negeri.
“Jadi agar tahu tata caranya bagaimana menawarkan produk, terus penawaran-penawaran itu nanti harganya berapa. Misal kalau harganya terlalu mahal itu juga akan di-coaching clinic oleh ITS caranya agar tidak terlalu mahal harganya,” ujarnya.
Dirinya mengungkapkan beberapa kendala yang dialami oleh pelaku IKM ketika akan mengekspor produknya. Diantaranya yakni belum mendapatkan pengetahuan soal standar produk, kemasan, daftar nilai gizi yang sesuai hingga sertifikasi halal.
“Rata-rata mereka belum diarahkan melalui coaching clinic seperti ini, misal makanan krispi yang bentuknya bulat, tapi tebal tipisnya nggak sama ini kadang mereka (pembeli) tidak mau. Kemudian ada warnanya yang nggak sama itu juga nggak mau, lalu kemasannya juga harus ada double close. Selain itu, juga sertifikasi hala kadang industri kecil menengah ini mereka tidak punya dana untuk sertifikasi, nah kita carikan sertifikasi halal yang murah bahkan gratis, karena mereka perlu,” paparnya.
Adanya pendampingan ini, ia berharap, pelaku IKM di Kota Surabaya dapat memasarkan produknya baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, ia menambahkan, IKM-IKM tersebut bisa terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi Kota Surabaya.
“Kalau industri kecil menengah itu tumbuh, maka mereka akan membutuhkan tenaga kerja. Tujuan akhirnya adalah tenaga kerja Kota Surabaya ini bisa bekerja di industri kecil menengah itu,” harapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) ITS, Prof. Maria Anityasari, menyampaikan bahwa pihaknya menerjunkan ratusan mahasiswa untuk mendampingi para pelaku usaha secara langsung.
Mahasiswa semester satu berfokus membantu penyusunan profil perusahaan (company profile), perumusan visi-misi usaha, serta pembuatan katalog dan video promosi singkat berdurasi tiga menit. Sementara itu, mahasiswa semester lima bertugas mendampingi proses efisiensi produksi, penentuan harga pokok penjualan (HPP), hingga teknik negosiasi bisnis.
“Para mahasiswa diterjunkan sesuai dengan kelompok industri peserta, seperti pangan, fashion, atau home decor. Pendampingan yang spesifik ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret bagi setiap tantangan yang dihadapi IKM,” pungkasnya. (red)
![]()













