SIDOARJO, Eksklusif.co.id – Harapan masyarakat Sidoarjo untuk melihat kawasan perlintasan sebidang Gedangan bebas dari drama kemacetan horor kian mendekati kenyataan. Progres proyek strategis pembangunan Flyover Gedangan terus bergerak maju secara signifikan. Setelah dokumen Detail Engineering Design (DED) dinyatakan rampung total, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo kini mengalihkan fokus penuh untuk mempercepat proses pembebasan lahan demi mengejar target konstruksi fisik pada tahun 2027.
Kepastian finalisasi desain tersebut dikonfirmasi setelah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) memaparkan hasil akhir DED proyek kepada jajaran eksekutif Pemkab Sidoarjo. Pertemuan krusial yang juga melibatkan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut berlangsung di Ruang Opsroom Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sidoarjo.
Plt. Bupati Sidoarjo, Subandi, menegaskan bahwa seluruh tahapan perencanaan teknis di atas kertas telah selesai. Satu-satunya tantangan utama yang kini harus diselesaikan oleh pemerintah daerah sebelum menyerahkan proyek ke tahap konstruksi adalah sterilisasi dan pembebasan lahan warga yang terdampak.
“Alhamdulillah, kami telah melakukan pemaparan bersama PT KAI dan instansi terkait untuk mempercepat realisasi pembangunan Flyover Gedangan. Secara teknis, DED dan perencanaan semuanya sudah selesai. Saat ini fokus kita murni pada percepatan tahapan pembebasan lahan,” ujar Subandi saat memberikan keterangan kepada awak media.
Terkait garis waktu pelaksanaan, Subandi memaparkan bahwa tahapan sosialisasi awal kepada pemilik lahan telah digulirkan sejak Juni 2026 lalu. Memasuki bulan Juli ini, pemerintah daerah menargetkan proses penilaian harga tanah oleh tim independen (appraisal) dapat diselesaikan secara objektif.
“Jika proses appraisal pada bulan Juli ini rampung sesuai jadwal, maka pembayaran ganti rugi kepada warga pemilik lahan dapat langsung didistribusikan pada periode Agustus hingga September mendatang,” jelasnya merinci target berkala penyerapan lahan.
Dari sektor finansial, mega proyek ini membutuhkan komitmen anggaran yang tidak sedikit. Pemkab Sidoarjo mengalkulasi total kebutuhan dana untuk pembebasan lahan di titik kepadatan utama tersebut mencapai kisaran Rp450 miliar. Mengingat alokasi anggaran murni yang siap saat ini baru menyentuh angka Rp200 miliar, Subandi bergerak cepat dengan menginstruksikan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) untuk menyusun skema penambahan dana.
“Kami sudah memerintahkan BPKAD untuk menyiapkan pergeseran anggaran melalui mekanisme Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Kekurangan anggaran pembebasan lahan akan dipenuhi dari pos tersebut agar tidak ada penundaan pembayaran di lapangan,” tegas Subandi optimis.
Pihaknya meyakini, apabila sinergi finansial dan pembebasan tanah ini berjalan tanpa kendala, struktur fisik Flyover Gedangan diproyeksikan sudah kokoh berdiri pada tahun 2027. Infrastruktur ini dinilai menjadi solusi tunggal yang paling dinantikan publik untuk mengurai benang kusut kemacetan akut di perlintasan sebidang Gedangan, yang selama ini menjadi titik leher botol (bottleneck) arus lalu lintas Sidoarjo-Surabaya.
“Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Dengan kekompakan semua pihak, pekerjaan rumah (PR) besar Kabupaten Sidoarjo mengatasi kemacetan menahun ini bisa segera terwujud,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Makhmud, memastikan bahwa seluruh visualisasi tata ruang dan desain struktur jembatan layang tersebut tidak akan mengalami perubahan lagi.
“Iya, dokumen DED sudah final sepenuhnya,” pungkas Makhmud menyudahi penjelasan teknis proyek.
(Ali)
![]()













